TRITON TEROMPET (Charonia tritonis) DI PULAU TARUPA KECIL, APAKAH ADA ATAU TIADA? 

Secara umum di TN. Taka Bonerate ditemukan jenis moluska 4 kelas, yaitu Gastropoda, Pelecypoda, Cephalopoda dan Scapopoda dengan 62 famili dan 299 spesies. Gastropoda didominasi dari jenis keong-keongan sedangan pelecyipoda dari jenis kerang-kerangan (Statistik TN.TBR 2016)
Salah satu keong besar dari kelas gastropoda adalah triton terompet (Charonia tritonis), tersebar di beberapa tempat/taka dalam kawasan TN. Taka Bonerate, tetapi sejauh ini belum bisa dipastikan dimana saja tempat dan keberadaan keong besar tersebut, oleh karenanya dilakukan kegiatan inventarisasi triton untuk mengetahui keberadaan keong besar tersebut.
Inventarisasi triton di TN. Taka Bonerate didahului dengan studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap beberapa orang yang dianggap bisa memberi petunjuk terkait lokasi dan tempat yang memungkinkan masih bisa dijumpai populasi triton di suatu taka dalam Kawasan TN. Taka Bonerate. Penemuan cangkang di beberapa rumah penduduk lokal di pulau Tarupa Besar, perjumpaan langsung spesies triton terompet beberapa rekan PEH di habitatnya, informasi lisan penduduk musiman Pulau Tarupa Kecil menjadi petunjuk awal menentukan lokasi inventarisasi triton yakni Perairan Tarupa Kecil.
Pulau dan peraiaran Tarupa Kecil merupakan salah satu gugusan atol yang terletak disisi utara Taman Nasional Taka Bonerate. Berdasarkan hasil interpretasi citra Aster tahun 2008, luas totalnya sebesar 3.445,05 Ha, terdiri dari karang hidup 755,68 ha, karang mati 736,49 ha, lamun dan makroalgae 597,87 ha, paparan pasir 1.331,52ha, pulau/daratan 5,94 ha dan bungin/sand dunes 23,49 ha.
Mengetahui distribusi, habitat, kelimpahan, pertumbuhan, perkembangan dan hubungan morfologis triton terompet sangat penting untuk menentukan area pengamatan di bawah permukaan laut. Triton terompet bertelur menjelang musim dingin dan biasanya bertepatan dengan musim kemarau (Hall 2017 pers.Comm). penggambaran iklim tersebut terjadi antara bulan Agustus sd Oktober, dimana merupakan menjelang dan puncak musim dingin di perairan TN. Taka Bonerate, berdasarkan data logger suhu yang ditanam di kedalaman 15 meter menunjukkan jika suhu terendah saat itu berkisar 25 ° C. sedangkan larva triton terompet berkembang optimum pada kisaran suhu 24° C (Zhang et al. 2013). berdasarkan informasi tersebut, kemungkinan besar setelah bulan September indukan betina triton terompet akan bergerak keperairan lebih dangkal setelah meletakkan telur pada parasitis, oleh karenanya kegiatan inventarisasi triton dilaksanakan bulan Oktober.
Metode pengamatan yang di gunakan pada kegiatan inventarisasi triton adalah metode Transek Sabuk (Belt Transek). Metode Transek Sabuk merupakan metode sensus visual bawah laut (Underwater Visual Census/UVC) yang biasa di gunakan untuk menghitung keanekaragaman, kepadatan, maupun kelimpahan ikan maupun invertebrata (Anonim, 2002). Untuk mendapatkan volume amatan yang lebih luas, metode ini di modifikasi dengan menggunakan tiga tenaga penyelam dimasing-masing kedalaman yang berbeda, bergerak secara bersamaan untuk menyusuri wilayah amatan inventarisasi, asumsi lebar pengamatan setiap orang seluas 5 meter sepanjang sisi tubir. Lamanya pengamatan di sesuaikan dengan isi tabung yaitu selama ± 35 – 45 menit pada setiap site/sasiun pengamatan atau sepanjang kurang lebih 400 m. Setiap stasiun pengamatan dicatat dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) baik pada saat turun (awal penyelaman) dan pada saat naik (akhir penyelaman). Selain data jumlah dan panjang cangkang triton, dilakukan juga pencatatan terhadap jumlah individu bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii).

Gambar 1. Ilustrasi wilayah pengamatan

Pada ke enam site/titik pengamatan diperoleh hasil sebagaimana tabel berikut :
Tabel : Data hasil pengamatan triton

Dari hasil pengamatan dari 6 (enam) site/titik dengan kedalaman yang berbeda tercatat sebanyak 3 individu triton terompet (Charonia tritonis) yang berhasil di jumpai dengan rata-rata panjang cangkang 37.33 cm. Panjang cangkang triton terompet dapat menjadi patokan, apakah triton terompet masih juvenil atau dewasa. Sedangkan untuk jenis bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) tercatat sebanyak 7 individu yang berhasil di jumpai.
Triton terompet (Charonia tritonis) hanya di jumpai pada site pengamatan 2, sedangkan site pengamatan lainnya hanya dijumpai bintang laut mahkota berduri yang merupakan makanan/mangsa triton, bintang laut mahkota berduri paling banyak dijumpai disite pengamatan 2, yakni sebanyak 4 individu.

Berdasarkan grafik terlihat kepadatan spesies triton terompet (Charonia tritonis) sebesar 0.6689 individu/Ha dan kepadatan spesies bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) sebesar 1.5616 individu/Ha. Triton terompet (charonia tritonis) Menempati ceruk/relung dengan sebaran luas di habitatnya, pergerakan menuju perairan yang lebih dingin ketika musim pemijahan sehingga berada pada area perairan lebih dalam. Luasnya home range/daerah jelajah memungkinkan beberapa triton terompet tidak terlihat oleh pengamat saat survey. Keterbatasan wilayah amatan pada kedalaman maksimal 25 m adalah salah satu faktor langka dan rendahnya kepadatan populasi. Selain itu jumlah kepadatan populasi yang rendah makin tertekan oleh pemanfaatan sebagai bahan konsumsi oleh nelayan lokal.
Perjumpaan bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) rata-rata di temukan pada kedalaman yang lebih dangkal yakni 5 sd 10 m, umumnya dikedalaman tersebut tutupan terumbu karang hidup kategori baik sd sangat baik. Menurut Aziz (1995), bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) umumnya terdapat pada perairan dengan arus yang lambat. Ditambahkan oleh Suharsono (1998), bahwa bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) sering ditemukan pada kedalaman 3 – 5 meter. Selain faktor lingkungan, faktor ketersediaan makanan juga sangat berpengaruh terhadap ada tidaknya bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii) pada suatu daerah.
Kepadatan populasi bintang laut mahkota berduri (Achantaster Plancii ) yang lebih tinggi memungkinkan perkembangbiakan triton terompet (Charonia tritonis). Biasanya hasil modelling dengan kepadatan mangsa lebih besar dari pada kepadatan populasi predator memungkinkan suatu populasi berkembang maksimal di suatu habitat. Tetapi dengan catatan aktifitas manusia tidak mempercepat penurunan populasi triton terompet di Pulau Tarupa Kecil.
Terlepas dari polemik tumbuh, kembang dan punahnya atau rendah dan tingginya kepadatan populasi triton terompet (Charonia tritonis) di perairan Tarupa Kecil, tetapi setidaknya telah memunculkan asa bahwa spesies ini masih ada dihabitatnya dan tetap menjalankan fungsi alaminya sebagai pengontrol populasi bintang laut mahkota berduri (Achantaster plancii). Kata jumawa masih bisa dilisankan bahwa “Triton terompet ada di Tarupa Kecil”.

Penulis :  Saleh Rahman/PEH Muda

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.