TRANSPLANTASI KARANG DAN LAJU PERTUMBUHAN ANAKAN KARANG DI TAMAN NASIONAL TAKA BONERATE

TRANSPLANTASI KARANG
Kawasan Taka Bonerate berawal dari ditetapkan sebagai cagar alam laut pada tahun 1989 berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor100/Kpts-II/1989. Kemudian berubah fungsinya sebagai Taman Nasional berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 280/KPTS-II/1992, tanggal 26 Pebruari 1992. Setelah itu diperkuat dengan ditetapkan sebagai Taman Nasional Taka Bonerate dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 92/KPTS-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 seluas 530.765 Ha.
Dari total luasan tersebut 59% diantaranya adalah laut dalam dengan kedalaman >25 m, sedangkan sisanya adalah gugusan karang atoll seluas 220.000 Ha atau sebesar 41 %. Gugusan karang atoll inilah yang rentan terdegradasi akibat berbagai faktor disekitarnya, baik karena faktor alam maupun faktor aktifitas manusia. Degradasi rentan terjadi terhadap ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang, padahal luas kedua ekosistem ini hanya bagian kecil dari gugusan ekosistem di Taman Nasional Taka Bonerate, yakni sebesar 18.587 Ha untuk ekosistem terumbu karang dan 19.748 Ha untuk ekosistem lamun (Interpretasi Citra Aster 2008), sisanya berupa bungin, pasir, pulau, laut dalam dan laut dangkal. Salah satu ekosistem tersebut akan menjadi pokok bahasan kita saat ini yakni ekosistem terumbu karang
Ekosistem terumbu karang memiliki kelengkapan struktur tropik yang tinggi seperti habitat bagi berbagai jenis ikan, biota moluska dan echinodermata. Manfaat yang terkandung dalam terumbu karang adalah sebagai penghasil beragam sumberdaya ikan, sumber keanekaragaman hayati dan manfaat tidak langsung lainnya.
Meskipun terumbu karang memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat sekitarnya tetapi sangat rentan terhadap kerusakan dan tergolong “fragile“ atau sangat mudah rusak oleh berbagai faktor, baik dari faktor alam maupun faktor manusia, diantaranya eksploitasi berlebih sumberdaya laut, dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bahan peledak dan penggunaan racun seperti potassium.
Kerusakan yang diakibatkan oleh manusia bersifat massif dan terus menerus sehingga berpotensi menurunkan dengan cepat daya dukungnya terhadap sumber daya alam yang ada didalamnya. Upaya rehabilitasi membutuhkan waktu lama dan biaya yang sangat mahal sehingga tidak cukup dengan upaya rehabilitatif, tetapi dibarengi dengan upaya persuasif dan penyadaran terhadap masyarakat lokal, salah satunya dengan transplantasi karang melibatkan kelembagaan yang ada dimasyarakat.
Tujuan transplantasi karang adalah memulihkan/merehabilitasi terumbu karang yang telah rusak, mengembalikan kondisi ekosistem terumbu karang dan memberi pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang teknik dan cara transplantasi karang sehingga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap manfaat terumbu karang.
Teknik transplantasi di sini adalah pengambilan atau pemotongan salah satu bagian kecil dari terumbu karang, bagian potongan kecil polip diambil dengan pisau khusus, lalu dipindahkan/ didekatkan kelokasi substrat dengan jalur laut dan ditumbuhkan pada tempat yang berbeda dengan kondisi fisik dan biologis yang sama. Seperti suhu air yang sama dengan sebelumnya dan kedalaman yang kurang lebih sama.
Selain itu untuk mendekatkan persepsi petugas dan masyarakat tentang transplantasi karang maka dilakukan briefing singkat terkait metode, tujuan dan hasil akhir kegiatan. Metode transplantasi karang dengan menggunakan substrat besi berbentuk sarang laba-laba, substrat besi dilumuri lem terlebih dahulu, kemudian ditaburi pasir pantai secara menyeluruh dipermukaannya. Pengeleman dan penaburan pasir memerlukan waktu minimal 2 hari untuk memastikan rangka besi benar-benar menyatu dengan substrat pasir pantai.
Bibit/anakan karang yang telah siap kemudian diikatkan pada media substrat, Pengikatan sebaiknya dilakukan di dalam air, tetapi apabila di lakukan di permukaan air jangan terlalu lama (kurang lebih 20 menit). Tali pengikat dapat menggunakan tali pancing atau tali ties. Anakan karang di ikat disetiap bagian rangka dengan menggunakan tali ties, sisa tali ties yang tidak di pakai di potong untuk meminimalisir plastik di sekitar anakan karang. Setelah tahap pengikatan selesai dilanjutkan dengan pengukuran anakan karang, pengukuran ini berguna untuk mamantau perkembangan anakan karang untuk waktu/periode tertentu. selanjutnya tahap penempatan rangka media di dasar perairan, pada tahap ini media di turunkan pada lokasi yang telah di survey terlebih dahulu dengan mempertimbangkan berbagai faktor. dua orang penyelam bertugas dibawah permukaan laut untuk menyusun/ mengatur media rangka dengan rapi, selanjutnya mengikat dan menyatukan setiap rangka yang telah tersusun dengan baik, pengikatan rangka antara satu dengan lainnya dimaksudkan agar rangka tetap berdiri dengan kokoh bila terjadi arus dasar perairan.

Karang hasil transplantasi yang sedang disemaikan pada media rangka besi konstruksi laba-laba di dasar laut membutuhkan pemeliharaan yang intensif untuk menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang baik. Kegiatan pemeliharaan karang yang utama adalah pembersihan terhadap substrat transplantasi dan anakan dari sedimen yang menempel. Kegiatan pemeliharaan lainnya adalah menata tegakan karang transplantasi jika terdapat karang yang terlepas dari kedudukannya pada media yang disebabkan oleh pengaruh gelombang.

PERTUMBUHAN ANAKAN KARANG
Pertumbuhan terumbu karang sampai ke fungsi ekosistem optimum memerlukan waktu yang sangat lama yaitu berkisar antara 5.000 – 10.000 tahun lamanya. Dengan syarat, tidak ada intervensi kegiatan manusia yang mempengaruhi pertumbuhan ekosistem tersebut. Lamanya pertumbuhan ekosistem terumbu karang sampai ketingkat optimumnya tidak sebanding dengan laju kerusakan karang akibat ekstraktif illegal seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.
Pertumbuhan karang dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik dapat berupa intensitas cahaya, lama penyinaran, suhu, nutrisi, dan sedimentasi. Connel dalam percobaannya menemukan bahwa jumlah atau lama penyinaran adalah faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan karang. Karang memiliki kemampuan hidup dalam perairan miskin nutrien dan mampu beradaptasi terhadap kenaikan nutrien yang bersifat periodik, seperti run off. Karang tidak dapat beradaptasi terhadap kenaikan nutrien secara mendadak dalam jumlah besar.
Pertumbuhan anakan karang berbeda antara satu spesies dengan spesies lainnya, antara satu tempat dengan tempat lainnya, tergantung dari faktor abiotik dan faktor biotiknya berupa predasi, kompetisi, agresi karang lain, dan lainnya. Berikut adalah Parameter fisika dan kimia perairan yang diukur dimasing-masing lokasi transplantasi karang seperti suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus dan arah arus permukaan laut.
Tabel 1. Data hasil pengukuran kondisi perairan di lokasi transplantasi karang

Tabel 2. Hasil Pengukuran Transplantasi Karang di TN. Taka Bonerate

Adanya perbedaan pertumbuhan pada karang menyebabkan terjadinya bentuk morfologi yang berbeda-beda. Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan yang berbeda-beda. Satu jenis yang sama tetapi menempati area yang berbeda akan mempunyai bentuk morfologi yang berbeda pula (Veron 1986 in Pratama 2005).
Hasil transplantasi karang pada bulan April sd Oktober 2017 dan dilakukan monitoring pertumbuhan karang pada Maret sd September 2018 menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan karang yang berbeda. Dari hasil pengamatan pada genus karang yang ditransplantasi tercatat sebanyak 1.500 buah rangka dengan masing-masing jumlah bibit awal penanaman sebanyak 5400 anakan karang. Dari hasil akhir pengamatan transplantasi karang di TN Taka Bonerate tahun 2018 tercatat sebanyak 2084 sd 4704 anakan karang hidup, sedangkan yang mengalami kematian sebanyak 372 sd 3226 anakan karang sebagaimana terlihat pada gambar sbb:
Gambar 1. Tingkat kelulusan hidup anakan karang di TN Taka Bonerate

Tingkat kelulusan hidup anakan karang tertinggi terdapat di Pulau Rajuni Besar dengan jumlah bibit hidup sebanyak 4704 anakan karang atau sebesar 92.67%, sedangkan tingkat kelulusan hidup anakan karang terendah terdapat di Pulau Latondu dengan jumlah bibit hidup sebanyak 2084 anakan karang atau sebesar 39.25%. Menurut Harriot & Fisk (1988) secara umum transplantasi karang dinyatakan sukses/berhasil dari sudut pandang biologis, dengan tingkat ketahanan hidup berkisar antara 50-100%. Oleh karenanya di Pulau Jinato, Rajuni Besar dan Tarupa dikategorikan sukses/berhasil sedangkan pulau Pasitallu Timur dan Pulau Latondu dikategorikan tidak berhasil.
Gambar 2. Laju pertumbuhan anakan karang di TN Taka Bonerate

Laju pertumbuhan karang yang ditransplantasi sejak penanaman pertama mencakup ukuran panjang/lebar pertumbuhan karang secara horizontal. Herdiana (2001) menyatakan bahwa koloni dengan bentuk bercabang memiliki kemampuan tumbuh yang cepat, sekitar 15 cm/tahun. Hasil pengamatan pada transplantasi karang cukup bervariasi, tingkat pertumbuhan/bulan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya walaupun dari genus yang sama.
Laju pertumbuhan tertinggi terdapat di pulau jinato dengan kecepatan tumbuh sebesar 0.87 cm/bulan atau 0.22 cm/minggu dari genus acrofora, sedangkan laju pertumbuhan terendah terdapat di Pulau Rajuni Besar dengan kecepatan tumbuh hanya 0.21 cm/bulan atau 0.05 cm/minggu.
Penyebab kegagalan tumbuh dan laju pertumbuhan karang diantaranya kondisi perairan berbeda dengan kondisi habitat asal fragmen karang, makroalga tumbuh sekitar fragmen karang, fragmen karang patah akibat gelombang, terdapat beberapa spesies ikan indikator pemangsa karang di areal transplantasi karang seperti chaetodontidae dan penempatan rangka transplantasi terlalu dangkal.
Keuntungan pada teknik tranplantasi terumbu karang adalah mempercepat pertumbuhan terumbu karang dan terumbu karang itu mudah untuk dikontrol. Namun jangan kita lupa bahwa dibalik keuntungan tentunya ada kerugian yang tidak bisa kita hindari seperti stress pada karang dan sasaran hanya menjangkau sekelompok kecil masyarakat lokal. Tetapi, jika dibandingkan keduanya, masih lebih besar keuntungan yang diperoleh dari pada kerugiannya sehingga kegiatan transplantasi karang memungkinkan untuk terus dilakukan sepanjang waktu pengelolaan TN Taka bonerate bersama masyarakat lokal sebagai pemilik asli sumber daya disekitarnya.

 

Penulis : Saleh Rahman/PEH Muda

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.