PENGUSAHAAN EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT

Infrastruktur wisata di Taman Nasional Taka Bonerate untuk mendukung konsep ini masih sangat terbatas, pusat pengembangan wisata masih berfokus dipulau tinabo, dengan infrastruktur pendukung wisata berupa dermaga 100 m, guest house, gazebo/shelter, perahu kano, tandon air, listrik, jalan setapak, MCK, kantin/restoran, instalasi listrik (TN.TBR, 2017), sedangkan di pulau lain infrastruktur pendukung utama hanya pos jaga/resort serta instalasi listrik dan airnya.

Namun kondisi ini tidak menjadi hambatan, tetapi menjadi tantangan untuk terus mengembangkan konsep ekowisata berbasis masyarakat, pos jaga/resort yang di jaga oleh staf/personil taman nasional sebanyak 2 sd 4 orang per posnya. total pos jaga di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sebanyak 8 buah, 7 buah diantaranya berada di tengah masyarakat, dan satu buah berada di pulau kosong. Staf/personil yang ada di pos ini menjadi garda terdepan untuk menjelaskan visi dan misi taman nasional, termasuk pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, sambutan yang hangat dan memberikan informasi yang benar akan menempatkan wisatawan di posisi yang nyaman dan responsive berada di masyarakat lokal, wisatawan yang menikmati pengalamannya di tiap pulau secara tidak sadar memberikan kontribusi terhadap konservasi di Taman Nasional Taka Bonerate.

Kegiatan pemanduan wisata hendaknya di miliki oleh setiap personil Taman Nasional Taka Bonerate, memahami kehidupan sekitarnya terkait satwa liar, vegetasi, habitat, ekosistem terumbu karang, sejarah lokal lanskap dan kultur masyarakat. Pengetahuan dan sikap ini hendaknya mampu di duplikasi ke warga lokal , peningkatan sikap, keterampilan pemanduan oleh warga lokal akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pulau umumnya dan warga pemandu wisatawan khususnya.

Duplikasi pengetahuan ke warga lokal tetap distandarisasi pelaksanaan yang ramah terhadap lingkungan, sehingga mampu menunjukkan kepada semua wisatwan, bahwa ada gerakan bersama terkait dengan pengelolaan taman nasional yang melindung lingkungan, terkait dengan pelaksanaan ekowisata dapat di lakukan 3 hal menurut (Fandeli & Nurdin, 2005). sebagai berikut : “1). Meminimalkan dampak negatif tersedianya fasilitas wisatawan yang ada terhadap lingkungan, 2) Menciptakan iklim yang kondusif bagi wisatawan bahwa mereka berada di kawasan yang istimewa, 3). Menciptakan kondisi dan situasi yang ramah lingkungan dalam pelaksanaan aktifitasnya, dalam rangka memberikan pendidikan dan menunjukkan nilai-nilai yang berwawasan lingkungan dalam berbagai inovasi yang dilaksanakan”.

Selain mendorong standarisasi pemanduan wisatawan, hal lain yang juga memerlukan perhatian dan maksimalisasi manfaat adalah penggunaan fasilitas dan utilitas warga lokal. Tanah yang kosong dan cukup luas berpotensi di gunakan sebagai daerah perkemahan, sumber daya alam yang dekat disekitar mereka di olah menjadi bahan makanan dan bercita rasa khas lokal berdasar kebiasaan sehari-hari, penggunaan pondokan orisinil warga sebagai rumah singgah/guest house bagi wisatawan dengan standar layak pakai dan layak huni, penggunaan transportasi seperti kapal ‘joloro’ untuk mengangkut wisatawan ke spot snorkel dan spot diving. Tentunya pemanfaatan fasilitas dan utilitas warga tersebut tetap di kontrol dan di standarisasi oleh pihak Balai Taman Nasional Taka Bonerate, wisatawan yang datang dan tinggal beberapa hari disekitar pemukiman warga lokal, diharapkan membelanjakan uangnya, sehingga memberi keuntungan bagi kawasan dan masyarakat lokal.

Pengusahaan ekowisata yang konsisten akan meningkatkan jumlah wisatawan dari waktu kewaktu, peningkatan wisatawan ini harus di barengi dengan manajemen resiko dan keselamatan. aktifitas wisata alam yang umumnya di lakukan di luar ruang berpotensi terhadap resiko di sekitarnya, resiko terjadi biasanya akibat kejadian yang tidak sengaja dan memerlukan penanganan cepat, misalnya tertusuk bulu babi saat snorkeling, tersengat karang lunak jenis karang bulu ayam, sehingga menyebabkan lecet atau kesakitan. pengawasan dan kontrol diperlukan untuk meminimalkan resiko yang mungkin terjadi terhadap pengunjung.

Mengasah empati dan tanggung jawab bersama antar pengelola taman nasional, operator wisata/masyarakat lokal dan wisatawan, serta tindakan tanggap darurat yang terjadi dan membutuhkan penanganan cepat di luar prosedur juga menjadi bagian dari manajemen resiko. keselamatan, kenyamanan, keamanan wisatawan menjadi sebuah harga mati yang harus mampu disiapkan selama berada di Taman Nasional Taka Bonerate.

Pengetahuan tentang pengusahaan ekowisata berbasis masyarakat di TN Taka Bonerate mampu mendorong peningkatan kualitas layanan yang bertanggung jawab terhadap pelestarian ekosistem perairan, potensi jasa lingkungan bahari tergali tanpa ekstraktif berlebihan, berkurangnya tekanan terhadap sumber daya alam menjamin kelestarian keanekaragaman hayati di TN Taka Bonerate. Ayo…. Ke Taka Bonerate !.

Penulis : Saleh Rahman, PEH Muda

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.