LIKUIFAKSI KUANTITAS PENGUNJUNG TN. TAKA BONERATE

”Likuifaksi ”tanah” adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat”. Likuifaksi menjadi semacam momok kata menakutkan beberapa waktu lalu, hal ini tidak lepas dengan kejadian likuifaksi di petobo dan balaroa, palu Sulawesi tengah.
Taman Nasional Taka Bonerate pernah bernostalgia dengan kinerja peningkatan pengunjung yang berimbas ke peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan akhir tahun 2016. Tahun 2011 jumlah pengunjung hanya sebesar 663 orang dengan nilai PNBP sebesar Rp. 25.235.000-, selanjutnya di akhir tahun 2016 jumlah pengunjung mencapai 3.711 dengan nilai PNBP sebesar Rp. 188.794.000,-. Hmm…. lalu apa hubungannya dengan ”likuifaksi” ?.
Awal 2017 sampai dengan saat ini bisa di identikkan dengan likuifaksi kuantitas pengunjung Taman Nasional Taka Bonerate, setelah beberapa tahun terakhir menikmati konsistensi peningkatan pengunjung, kemudian akhirnya mengalami penurunan pengunjung berturut-turut selama 2 tahun terakhir, setidaknya sampai dengan Oktober 2018. tahun 2017 jumlah pengunjung 2.269 orang dengan nilai PNBP sebesar Rp. 1.370.250,- sedangkan tahun 2018 jumlah pengunjung sampai dengan bulan Oktober sebanyak 1.398 orang dengan nilai PNBP hanya sebesar Rp. 56.430.000,-. Tahun berjalan 2018 belum tuntas dibukukan, tetapi setidaknya memberi gambaran bahwa dengan sisa waktu bulan Nopember dan Desember rasanya mustahil untuk mendekati kinerja kuantitas pengunjung 2 tahun sebelumnya. Berikut adalah grafik kunjungan tahun 2011 sd 2018.

Apakah Taman Nasional Taka Bonerate telah mencapai titik jenuh, atau telah kehilangan kekuatan untuk menopang peningkatan kuantitas pengunjung sehingga kemudian grafiknya bergerak turun ?, semoga pergerakan grafik pengunjung tidak sampai ambles dibawah titik nol (likuifaksi).
Taman Nasional Taka Bonerate berdasarkan pemodelan yang dikembangkan oleh buttler masih dalam tahap pertumbuhan, tahap dimana perkembangan seharusnya tumbuh seperti kurva ”J”, meningkat dengan tajam sehingga diperlukan pengendalian dan peningkatan kualitas sampai mencapai daerah kritis elemen kapasitas. Ketika kita berada di tahap ”perlu pengendalian dan peningkatan kualitas”, apakah kita tidak bekerja sebagaimana yang diharapkan ?. mari kita lihat alokasi dukungan penganggaran sebelum tahun 2016.
Alokasi anggaran yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan menempati porsi 10 sd 20 % dari total anggaran TN. Taka Bonerate setiap tahunnya. Porsi anggaran terkait kegiatan wisata dan non wisata periode tahun 2011 sd 2015 terlihat pada gambar berikut :

Alokasi anggaran yang berdampak langsung terhadap peningkatan kegiatan wisata tahun 2011 sebesar 9,23% dari total anggaran, kemudian tahun berikutnya, terus terjadi peningkatan pengalokasian anggaran, puncaknya di tahun 2014 sebesar 18,05% dari total anggaran, tahun 2015 anggaran wisata menurun menjadi sebesar 14,95%.
Kemudian alokasi anggaran tahun 2017 untuk wisata sebesar 28,85%, meningkat jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Ada benarnya jika dikatakan pengelolaan taman nasional tidak hanya untuk kinerja peningkatan wisata, tetapi perlu juga kita cermati bahwa tugas dan fungsi yang diturunkan dari visi dan misi taman nasional terdiri dari 13 item, 3 diantaranya berdampak langsung terhadap pengembangan ekowisata, yakni pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan, Penyediaan data dan informasi, promosi dan pemasaran konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, Pemberdayaan masyarakat didalam dan sekitar kawasan (TN.TBR, 2013). Beberapa jenis kegiatan yang bertujuan meningkatkan aktivitas wisata diantaranya festival taka bonerate, pameran wisata tingkat lokal/regional dan nasional, penyusunan media informasi dan promosi TN, identifikasi spot dive dll. Berdasarkan porsi alokasi anggaran menandakan bahwa pihak taman nasional bekerja dan bereaksi menyesuaikan atmosfer sekitarnya.
Jika melihat daya dukung fisik, Taman Nasional Taka Bonerate masih jauh dari titik jenuh, dengan daya dukung fisik pulau kecil terendah sebesar 250 orang/hari dan 536 orang/hari untuk P. Tinabo Besar (Rahman, 2016) masih sangat mungkin berkontraksi dari total kunjungan harian saat ini yakni 94 orang/bulan atau sekitar 3 sd 4 orang/hari. Kita sadari bahwa daya dukung fisik spot snorkel dan spot dive tentunya lebih kecil lagi, tergantung luas masing-masing spot dive/snorkel.
Selanjutnya mari kita simak pertanyaan selanjutnya “apakah kita telah kehilangan kekuatan untuk menopang peningkatan kuantitas pengunjung ?”. kita punya kekuatan tentang 1). branding merk ”tinabo” yang sudah terbangun, sering sekali tamu mengatakan bahwa ”saya mau ke tinabo” tanpa mengatakan ”saya mau ke taka bonerate”. 2). Dukungan potensi wisata alam dan spot dive, hamparan terumbu karang dengan tutupan kategori sedang sampai sangat baik, pulau dengan pasir putih mengkilap karena berasal dari pecahan karang, kejernihan air laut karena tidak ada sungai sebagai sumber sedimentasi, kontur bawah laut yang unik karena terpisah dengan daratan utama (pulau sulawesi dan pulau selayar). 3). sarpras penunjang kegiatan wisata alam tersedia diantarnya guest house, jalan trail, pos jaga sebagai pusat informasi tersebar di 8 pulau dalam kawasan TN. Taka Bonerate dll. 4). layanan wisata oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman, penguasaan informasi dan objek wisata memaksimalkan peran personil lapangan dalam menginterpretasikan wilayah kerjanya. 5). Organisasi dan tata kerja balai berkekuatan hukum sehingga mempunyai visi dan misi jelas. 6). masyarakat dengan budaya dan perikanan tangkapnya sehingga berpeluang menjadi destinasi tambahan berupa wisata budaya dan wisata kuliner.
Kita masih jauh dari kata jenuh terkait kuantitas pengunjung, begitu juga dukungan pengalokasian anggaran sangat memadai untuk pengelolaan kawasan konservasi taman nasional untuk mewujudkan “tiga P” (Perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan), dan kita punya kekuatan untuk mendorong tumbuhnya kuantitas pengunjung. Kenapa masih terjadi penurunan jumlah pengunjung….?
Penulis mencoba melihat dan mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah pengunjung antara lain: 1). SDM Pengelola terbatas, jumlah personil//pegawai sebanyak 71 orang (TN.TBR 2017) dengan tupoksi yang berbeda dan beragam, 27 orang diantaranya bertugas sebagai tenaga fungsional Polhut, PEH dan penyuluh serta beberapa tenaga P3K yang bertugas dilapangan, jumlah petugas yang berhubungan langsung dengan layanan jasa wisata sangat terbatas. 2). Aksesibilitas dan amenitas rendah sehingga berbiaya mahal, tidak adanya kapal reguler yang terjadwal menyebabkan pengunjung ke Taka Bonerate harus mencarter kapal dengan biaya mahal (5 sd 6 juta/trip), kapal reguler tersedia tetapi dengan catatan kuota penumpang penuh dan menutupi operasional kapal baru berlayar ke Taka Bonerate, Amenitas yang tersedia ketika pengunjung tiba di Taka Bonerate pun sangat terbatas, contohnya di Pulau Tinabo hanya tersedia penginapan sebanyak 6 kamar, Pulau Rajuni sekitar 6 sd 10 kamar, kondisi ini menyulitkan disaat terjadi ledakan pengunjung, karena pengunjung biasanya datang bersamaan di waktu long weekend. 3). Keterlibatan masyarakat lokal belum optimal, hanya sebatas penyiapan transportasi kapal dan kadang-kadang menjadi guide wisata, hal ini terjadi karena masih terpusatnya pengunjung ke Pulau Tinabo, belum tersebar ke pulau sekitarnya yang berpenghuni, keterlibatan masyarakat yang rendah tidak memberikan manfaat ekonomi secara maksimal ke mereka. 4). Kepatuhan terhadap protap/SOP layanan jasa wisata belum terbangun, sekiranya SOP tersebut sudah dijalankan maka keterlibatan masyarakat lokal akan lebih optimal. 5). Objek wisata sejenis tersedia ditempat lain, preferensi wisata bahari berupa snorkeling, diving dan menikmati pemandangan pantai banyak tersedia sebelum mencapai TN. Taka Bonerate diantaranya: pantai pinang, pantai gusung, pantai baloiyya di pulau selayar, pantai di bira (bulukumba) dll, pilihan ini lebih murah dan menghemat waktu sehingga mengefesienkan waktu cuti pengunjung.
Dengan beragam permasalahan tersebut diatas tentunya memerlukan penanganan serius dan terkoneksi antara berbagai stakeholder, upaya perbaikan serius dan berkelanjutan diperlukan supaya penurunan pengunjung tidak tertekan makin kedalam. Beberapa solusi jangka pendek antara lain : 1). diversifikasi produk, diversifikasi produk wisata diperlukan supaya mampu bersaing dengan daerah tujuan objek wisata lain yang terus berkembang, kekhasan, kealamian dan keunikan Taman Nasional Taka Bonerate perlu ditonjolkan dalam produk wisata seperti wisata religi, wisata berdasarkan segment kebutuhan (umur, minat, tema), spot dive/snorkel bertema khusus dll. 2). Pola manajemen pengunjung, manajemen pengunjung diperuntukkan untuk mempengaruhi pergerakan pengunjung sehingga memenuhi kebutuhan pengunjung dalam menerima layanan jasa wisata berkualitas, memperhatikan daya dukung fisik kawasan serta mendorong pergerakan pengunjung supaya tidak menjadikan Pulau Tinabo sebagai titik singgah utama, branding merek “tinabo” telah berhasil mempengaruhi pengunjung, tetapi tetap diperlukan takaran yang tepat sehingga branding tersebut tidak membebani pihak pengelola, diperlukan strategi diskriminasi harga antara pulau tinabo dengan pulau sekitarnya, tentunya harga di pulau tinabo lebih mahal tetapi tetap menjamin kualitas dan manfaat yg diperoleh pengunjung, penetapan harga dimaksud harus melalui analisis ketat sehingga diperoleh harga relevan dengan destinasi. 3). Inhouse training petugas pemungut karcis, petugas pemungut karcis merupakan garda terdepan unit pengelola dalam memperoleh Pendapatan Negara Bukan Pajak/PNBP, Penyegaran terkait pungutan tarif masuk kawasan konservasi berdasarkan PP. No. 12 Tahun 2014 harus dilakukan secara periodik untuk memaksimalkan setiap potensi pendapatan negara. 4). Pengelolaan stakeholder utamanya kelompok masyarakat didalam Kawasan TN. Taka Bonerate, memastikan ekosistem kepariwisataan berjalan dengan system jasa dan layanan yang andal harus terus menerus dilakukan, masyarakat tidak cukup hanya diberi bekal informasi kepariwisataan tetapi harus didorong untuk mampu menginterpretasikan setiap objek wisata yang akan dikunjungi, kemampuan menguak makna dari setiap informasi akan menambah pengalaman baru terhadap pengunjung. Dorongan terhadap perangkat desa untuk memberikan dukungan pengalokasian anggaran desa dalam upaya peningkatan kesiapan aksesibilitas, amenitas dan akomodasi layanan jasa wisata.
Akselerasi peningkatan kuantitas pengunjung sampai ke tahap daya dukung optimum diperlukan saat ini. Mari kita bersiap dan mensinergikan target pemerintah dalam rencana pencapaian 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia di tahun 2019, likuifaksi kuantitas pengunjung adalah masa lalu, mari berbenah dan menyongsong masa depan aktifitas wisata bahari Taman Nasional Taka Bonerate yang mensejahterahkan masyarakat. Wisata ke Taman Nasional Taka Bonerate merupakan wisata minat khusus, wisata dengan pola yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan lebih terhadap aspek kelestarian alam, lingkungan dan budaya (enviromentally and cultural sensitives).

 

Penulis : Saleh Rahman/PEH Muda

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.